Selasa, 19 Juli 2016

BERHENTILAH MEMPERALATKU

Aku merasa beristrirahat sejenak, hanya ketika Aku menutup mata. Kehidupanku ini tak ubahnya bagai sepur yang melaju tanpa saingan. Namun penguasa selalu memacuku untuk bersaing. Katanya negara kita paling terbelakang, tidak maju-maju, juru kunci. Ah, atau apalah namanya…. Yang intinya, kita tidak bagus. Tiba-tiba kita dibuat bangga karena salah satu anak negeri berjaya, mengukir prestasi. Padahal untuk maju Aku tak butuh saingan atau pergulatan mental yang berlebihan. Aku hanya butuh ruang berkreativitas dan menunjukkan karya yang tertanam dalam imajinasiku. Terkadang apa yang menjadi harapmu, tidaklah Aku bisa penuhi. Terkadang ironi itu muncul, ketika Aku mulai kehilangan kepercayaan diri. Maka datanglah para motivator ulung berasaz kenegarawan memberikan hembusan angin surga. Katanya Aku tak boleh menyerah, diberikannya bantuan tanpa kontrol. Mereka sebut itu bantuan langsung, tunai. Beberapa juga mereka sebut sebagai bantuan sosial. Beberapa lagi dan yang paling menggiurkan, bantuan itu adalah hibah. Gratis semuanya, bibit, pupuk, makan, pesta, bahkan bangun rumah. Apa yang kita perlukan? Betulkah kita butuh kreativitas, atau justru hanya uang, atau pembinaan yang berkelanjutan? Aku tidak pernah tahu apa yang Aku butuhkan atau perjuangkan ke depan. Yang Aku tahu Aku harus bertahan untuk keluargaku. Mungkin untuk beli tanah reklamasi, atau sebuah bukit emas, hutan batubara, lautan minyak lepas pantai, atau sekedar menghisap darah setiap orang agar mereka tidak dapat berkembang, kurus, mengering dan mati. Motivator itu menilai kehidupanku dengan upaya dan usaha, pola pikir dan kejernihan hati yang mereka anggap benar. Hadir bak dewa penolong. Hidup bersahaja dengan pantat kerbau dalam kubangan lumpur. Sejenak menikmati nyiur yang melambai di pantai sambil menunggu umpan termakan ikan besar, mungkin sebesar rumah. Yang nantinya bisa dibagi kepada seluruh kampung. Namun Aku dikatakan perusak alam, tidak menghormati anugrah yang kuasa. Padahal Aku hanya mencari seekor ikan untuk satu kampung, bukan untuk memperkaya diri. Bukan pula untuk memperluas Dinasti keluargaku. Denpasar. 9 mei 2016 (WYS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar