Selasa, 19 Juli 2016
BIARKAN AKU MERINDU
Masih terasa suara lengkingan cemara diterpa angin gunung dan kokokan ayam bersahutan memenuhi rimba tebing dan ngarai lembah pagi itu. Memberi kenyamanan pada ilusi berpadu deru degup jantung yang makin tak menentu. Aku melihatnya berbalut kain putih kepala, serba putih, tanpa alas kaki dan nampak bersahaja. Asap mengepul membumbung memenuhi angkasa. Dingin pagi itu sirna, ketika ku terlibat dalam hangatnya dapur bertungku tanah. Aroma khas pedesaan membawaku ke dunia lain sesaat menghilangkan polusi kota dalam rongga dadaku. Semakin siang semakin mempesona. Menjingjing alat bersiap menggarap tanah garapan dengan kearifan lokal dan kebijaksanaan nurani. Berbekal takilan berbungkus daun. Tanpa dirasa, senja merayap pelan. Sayup-sayup terdengar suara serangga bertalu menyambut malam. Malam yang hanya diterangi lampu minyak dan suara jangkrik Asupan sederhana yang menyehatkan serta udara segar setiap hari. Masih dalam suasana menggigil ditemani lesung berlonta member kabar menderu. Biarkan aroma itu merambat serabut saraf otakku. Biarkan semua memenuhi rongga dadaku. Biarkan semuanya masuk mencuci semua pemikiran tradisionalku yang negative. Mereka yang kau sebut tradisional dan terbelakang memiliki arti penting dalam menjaga alam. Mereka tetap ingin tahun dua luar, bertelanjang kaki ke kota besar. Entah ingin tahu, atau sekedar mencari hiburan. Ketika mereka kembali, mereka kembali kepada kehidupan alaminya. Mereka yang disebut tidak beragama. Aku bangga belajar tentang mereka. Dalam doa dan kegiatan nyata menjaga alam semesta.
Denpasar, 10 mei 2016 (WYS)
BERHENTILAH MEMPERALATKU
Aku merasa beristrirahat sejenak, hanya ketika Aku menutup mata. Kehidupanku ini tak ubahnya bagai sepur yang melaju tanpa saingan. Namun penguasa selalu memacuku untuk bersaing. Katanya negara kita paling terbelakang, tidak maju-maju, juru kunci. Ah, atau apalah namanya…. Yang intinya, kita tidak bagus. Tiba-tiba kita dibuat bangga karena salah satu anak negeri berjaya, mengukir prestasi. Padahal untuk maju Aku tak butuh saingan atau pergulatan mental yang berlebihan. Aku hanya butuh ruang berkreativitas dan menunjukkan karya yang tertanam dalam imajinasiku. Terkadang apa yang menjadi harapmu, tidaklah Aku bisa penuhi. Terkadang ironi itu muncul, ketika Aku mulai kehilangan kepercayaan diri. Maka datanglah para motivator ulung berasaz kenegarawan memberikan hembusan angin surga. Katanya Aku tak boleh menyerah, diberikannya bantuan tanpa kontrol. Mereka sebut itu bantuan langsung, tunai. Beberapa juga mereka sebut sebagai bantuan sosial. Beberapa lagi dan yang paling menggiurkan, bantuan itu adalah hibah. Gratis semuanya, bibit, pupuk, makan, pesta, bahkan bangun rumah. Apa yang kita perlukan? Betulkah kita butuh kreativitas, atau justru hanya uang, atau pembinaan yang berkelanjutan? Aku tidak pernah tahu apa yang Aku butuhkan atau perjuangkan ke depan. Yang Aku tahu Aku harus bertahan untuk keluargaku. Mungkin untuk beli tanah reklamasi, atau sebuah bukit emas, hutan batubara, lautan minyak lepas pantai, atau sekedar menghisap darah setiap orang agar mereka tidak dapat berkembang, kurus, mengering dan mati. Motivator itu menilai kehidupanku dengan upaya dan usaha, pola pikir dan kejernihan hati yang mereka anggap benar. Hadir bak dewa penolong. Hidup bersahaja dengan pantat kerbau dalam kubangan lumpur. Sejenak menikmati nyiur yang melambai di pantai sambil menunggu umpan termakan ikan besar, mungkin sebesar rumah. Yang nantinya bisa dibagi kepada seluruh kampung. Namun Aku dikatakan perusak alam, tidak menghormati anugrah yang kuasa. Padahal Aku hanya mencari seekor ikan untuk satu kampung, bukan untuk memperkaya diri. Bukan pula untuk memperluas Dinasti keluargaku.
Denpasar. 9 mei 2016
(WYS)
Langganan:
Postingan (Atom)