Sabtu, 26 November 2011

ANDAI POHON TUA ITU BISA FACEBOOK

Pohon Tua itu terletak dilebatnya hutan Kalimantan. Rekan-rekannya telah menghilang. Entah telah terbakar ataupun menjadi bagian dari sebuah bangunan. Atau bahkan dibabat habis begitu saja demi nilai devisa yang menggiurkan. Hutan, begitulah kita menyebutnya. Kawasan yang meliputi pohon-pohon dan berbagai binatang liar. Hutan Kalimantan disebutkan juga sebagai paru-paru dunia. Sepertinya sangat masuk akal, karena hanya daerah tropis yang dapat ditumbuhi hutan-hutan lebat dan juga luas. Saat ini tampak luar, hutan Kalimantan masih memiliki daya eksotisnya sebagai sumber oksigen bumi. Ironisnya itu hanyalah tampak luar. Tetapi pada kenyataannya ternyata paru-paru dunia itu telah berlubang. Lubang yang cukup besar. Seandainya lubang itu ada pada manusia dengan memakai hukum perbandingan, tentu manusia tinggal menunggu ajalnya. Sama halnya dengan bumi, ketika paru-parunya telah berlubang, bumi hanya menunggu ajal. Seandainya pohon tua tua itu punya akun facebook sepertinya dia akan menulis pada wallnya, “tolong selamatkan saya”. Tetapi apakah ada yang menulis coment, atau sekedar me-like tulisan pada wall akun facebook milik sang pohon tua? Kata dokter, paru-paru yang berlubang ternyata masih dapat diselamatkan. Meskipun, pada kenyataannya sangat sulit. Ungkapan bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati sudah tidak ada gunannya lagi. Bayangkan, paru-paru telah berlubang tentu sakitnya tak tertahankan. Ternyata bagian tubuh lain ramai-ramai menyalahkan paru-paru. Wah-wah bagaimana ini? Padahal jelas penyebab lubang bukan hanya paru-paru, organ tubuh lain seperti hidung yang menghirup udara juga mulut yang memasukkan makanan ke dalam tubuh juga berpengaruh pada kerja paru-paru. Udara yang kotor dihirup melalui hidung, masuk ke tenggorokan dan akhirnya ke paru-paru. Mengapa hanya menyalahkan paru-paru? Begitu ramai di media social baik facebook, twitter, termasuk informasi dunia maya lainnya. Bahkan ketika sudah disalahkan, cenderung paru-paru diminta mengobati dirinya sendiri. Tentu saja agar anggota tubuh lain terselamatkan juga. Jelas paru-paru miris. Dia dianggap sebagai biang keladi global warming. Paru-paru berontak dengan ungkapan obati atau biarkan saja menjadi mati. Sepertinya sangat logis ungkapan itu. Pada manusia, satu penyebab lubang pada paru-paru adalah karena asap rokok ataupun karena udara yang tidak bersih. Asap rokok di hisap melalui mulut dan mendarat pada paru-paru. Bisa diibaratkan sebagai pabrik dengan cerobong asapnya yang mengepul. Sebenarnya tohpun merokok dan memang tidak bisa dihentikan kegiatan merokok, mulut bisa mengurangi menghisap asapnya. Tetapi sepertinya mulut sudah kecanduan dan tidak peduli lagi pada kesehatan tubuh. Mulut sudah depresi dan sebagai obat penawarnya adalah asap rokok yang banyak. Atau alasan yang klasik lainnya, otak menyadari butuh uang untuk menyambung hidup. Karena terus berpikir tentang uang, otak menjadi stress. Akhirnya perbanyak merokok agar kinerja meningkat. Seperti yang kita lihat sekarang, belahan bumi yang dianggap sebagai penggerak ekonomi dunia mungkin sedang mengalami depresi. Pada akhirnya membuat banyak kepulan asap. Uniknya lagi kepulan asap itu muncul bukan hanya pada mulut atau tempat mengkonsumsi makanan (belahan dunia sebagai konsumen). Ternyata kepulan asap itu bisa berasal dari seluruh tubuh (belahan dunia) lain. Sedikit harapan, tetap saja ada kemungkinan. Obati dan rawat baik-baik. Sebenarnya tidak harus dengan kepulan asap kinerja dan financial meningkat. Jika tidak bisa dihilangkan, paling tidak dikurangi kepulan asap. Kepulan asap juga merambah jalur khatulistiwa yang secara umum merupakan daerah penghasil oksigen dunia dalam jumlah besar. Kebetulan juga secara umum jalur khatulistiwa adalah wilayah-wilayah dunia ketiga. Lubang yang diakibatkan oleh kepulan asap terpaksa dilakukan agar otak lebih tenang. Tapi kenapa otak tidak memikirkan dampak kesehatan yang ditimbulkan akibat otoriter kebijakan perekonomian. Sepertinya otak tidak mau ambil pusing. Sebaiknya dalam jangka pendek harus segera di penuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kalau sudah mati, brarti tidak ada yang perlu dipenuhi lagi. Tetapi tentu saja bumi ingin hidup lebih lama menikmati sinar matahari pagi dan udara yang bersih tanpa polusi. Sang pohon tua perlu dukungan untuk mewujudkannya. Saat ini dukungan bisa digalang dengan cepat melalui situs jejaring social, entah itu facebook, twitter atau media social lainnya. Bahkan merambah ke seluruh dunia hanya dalam hitungan detik. Semua orang diseluruh dunia yang koneksi dengan internet bisa berkomentar dan member tanggapan. Bisa jadi segera melakukan upaya nyata. Tetapi dukungan hanyalah sekedar dukungan. Andai saja pohon tua itu bisa facebook, pastilah dia mengajak orang lain atau bahkan tumbuhan lain untuk melakukan tindakan nyata menyelamatkannya. Pohon tua itu lebih tahu apa yang dialaminya daripada siapapun. Dengan rasa iba kita akan menulis di coment, “kasian pohon tua itu”. Paru-paru yang rusak hanya menyisakan kesakitan. Untuk bertahan, sering disarankan agar merawat tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang sehat dan juga memepertahakan kesehatan anggota tubuh lainnya. Sama halnya dengan hutan yang dianggap sebagai paru-paru dunia. Menyediakan makan dan lingkungan yang sehat agar bagian tubuh lainnya tetap sehat. Jika diibaratkan dengan bumi, belahan bumi lain yang bukan merupakan hutan Kalimantan hendaknya dirawat juga. Sedikit yang bisa dilakukan, lakukan saja. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Ketika bumi ini marana dan akhirnya mati, jelas tidak boleh hanya menyalahkan hutan Kalimantan sang paru-paru. Bagaimanapun juga kita semua punya peran untuk menyematkan sang paru-paru. Hanya dokter yang bisa mendiagnosa dan mengobati. Selebihnya masalah perawatan adalah tubuh secara keseluruhan. Bahkan otak memiliki peran yang utama untuk memberikan stimulasi pada bagian tubuh lainnya agar menyelamatkan paru-paru. Kitalah para dokter penyelamat sumber oksigen dunia sekaligus kita juga sebagai perawatnya. Adanya timbal balik antara otak (penggerak perekonomian), paru-paru (sumber oksigen dunia) beserta anggota tubuh lainnya akan membuat hidup selaras. Menggunakan pabrik dengan mengurangi emisi akibat kepulan asap. Memperbanyak penelitian energy ramah lingkungan, serta mempergunakan teknologi tersebut secara bijak. Tentu saja sudah banyak dilakukan. Kita bisa membantu mensosialisasikannya lewat jejaring sosial yang sudah terbukti keampuhannya dalam menyebarkan informasi dan juga menggalang dukungan. Jika memungkinkan, kita juga bisa menggunakan teknologi tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar. Pohon tua itu tidak memiliki akun facebook, twitter atau media social lainnya. Namun, kita bisa membuatkan untuk menyelamatkan sang pohon tua juga lingkungan disekitarnya. Meski kita tidak mengobati langsung ke hutan Kalimantan, tetapi kita bisa mengajak rekan, kerabat ataupun orang belum kita kenal untuk menjaga lingkungan masing-masing. Kalaupun memungkinkan, kita membuat group pada dunia maya. Tujuannya sebagai ajang diskusi dan melakukan upaya nyata untuk menyelamatkan alam. Pada akhirnya dengan arif kita bisa menuliskan pada wall, “ternyata kita semua yang harus menyelamatkan paru-paru dunia, bukan hanya sang paru-paru itu yang berjuang sendiri”.